Kamis, April 2, 2026
No menu items!
Google search engine
BerandaNasionalKetika Pemkab Terlambat, Fadilah Datang Lebih Dulu: Perempuan Biasa yang Mengisi Kekosongan...

Ketika Pemkab Terlambat, Fadilah Datang Lebih Dulu: Perempuan Biasa yang Mengisi Kekosongan Kekuasaan di Kampung Tanjung

Infoombbsiberindonesia com.
Mentok, Bangka Barat — Di saat sirene bantuan pemerintah tak kunjung terdengar, seorang perempuan tanpa jabatan dan tanpa baliho justru muncul paling cepat. Ibu Fadilah, pengusaha lokal yang tak pernah menempelkan wajahnya di spanduk, menjadi satu-satunya sosok yang datang membawa karung-karung beras ke Kampung Tanjung setelah banjir hampir setengah meter merendam pemukiman warga.

Datang tanpa rombongan, tanpa kamera, tanpa jargon kemanusiaan, Fadilah masuk ke lorong-lorong sempit yang masih tergenang. Ia menurunkan beras dari mobil kecilnya, berjalan di atas papan-papan basah, dan menyalami warga yang bahkan belum selesai membersihkan lumpur di lantai rumahnya.

“Beliau bukan pejabat, bukan orang politik. Tapi hatinya lebih cepat dari pemerintah,” ujar seorang ibu sambil memeluk dua karung beras.

Warga lain mengaku baru kali ini melihat bantuan datang tanpa seremoni dan tanpa harga diri yang harus dibayar dengan foto publikasi. Tidak ada mobil dinas. Tidak ada baju seragam instansi. Tidak ada narasi besar bahwa “kami sudah turun ke lapangan”. Yang ada hanya satu perempuan, satu niat, dan puluhan karung beras.

Banjir mungkin bukan hal baru bagi Kampung Tanjung. Yang baru adalah kenyataan bahwa orang yang paling pertama datang bukanlah orang yang memiliki kewenangan, melainkan seseorang yang selama ini bekerja dalam senyap. Fadilah lebih memilih duduk di tikar lembap warga, mendengarkan persoalan mereka tanpa janji-janji besar yang sering berakhir tinggal slogan.

“Tidak banyak bicara, tapi nyata,” kata seorang nelayan yang rumahnya sudah dua kali terendam sejak Oktober.

Aksi Fadilah justru semakin menonjolkan ironi mengapa seorang warga biasa bisa bergerak lebih cepat daripada pihak-pihak yang memiliki struktur, anggaran, dan kewenangan? Pertanyaan itu kembali menggema setiap kali banjir datang, namun jawabannya tetap kabur seperti bayangan pemerintah yang jarang terlihat di kampung pesisir.

Dalam dunia yang penuh pencitraan, di mana satu karung sembako sering harus dibayar dengan lima kali jepretan kamera, tindakan Fadilah terasa seperti tamparan halus. Ia tak memerlukan panggung, ia hanya perlu manusia lain yang bisa dibantu.

Setiap karung beras yang ia serahkan menjadi simbol kecil bahwa solidaritas tidak harus menunggu anggaran turun. Bahwa kepedulian tidak perlu menunggu rapat koordinasi. Bahwa kadang, kemanusiaan datang dari mereka yang tidak memiliki kepentingan apa pun.

Di Kampung Tanjung, nama Fadilah hari itu bukan sekadar nama. Ia adalah pengingat bahwa kebaikan, ketika dilakukan oleh orang biasa, bisa terasa jauh lebih besar daripada janji pejabat yang hanya lewat ketika mata kamera menyala.

Didi  /Belva /KBO.

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_imgspot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments