Kamis, April 2, 2026
No menu items!
Google search engine
BerandaAdat & BudayaMentok Menyala dalam Irama Seni, Festival Jadi Tanda Bicara Budaya.

Mentok Menyala dalam Irama Seni, Festival Jadi Tanda Bicara Budaya.

Infoombbsiberindonesia com.
Mentok, Bangka Barat – Mentok Arts Festival (MAF) 2025 resmi digelar di halaman Rumah Peradaban Mentok, Jumat malam (5/9/2025). Festival yang dirangkai dari pertunjukan musik, pembacaan puisi, teater rakyat, mural, hingga pameran seni rupa itu bukan sekadar hiburan, melainkan ruang bersama masyarakat untuk menghidupkan kembali denyut seni dan kebudayaan di kota pusaka Mentok yang telah berusia 291 tahun.

Festival ini mengusung tema “Tanda Bicara”, menegaskan seni sebagai bahasa kolektif masyarakat. Ketua panitia, Silo Sandro, menyebut bahwa acara ini menjadi pernyataan bahwa warga Mentok ingin didengar. “Ini bukan sekadar panggung hiburan, tapi ruang kolektif untuk merawat nyala peradaban,” ujarnya.

Tokoh nasional asal Mentok, Dr. Ir. Ridwan Djamaluddin, M.Sc., dalam sambutannya menyebut bahwa seni adalah “pelukan hati” di tengah kerasnya hidup. “Seni membuat hati lebih lunak, lebih terbuka, lebih reda,” ucapnya. Sementara itu, Wakil Bupati Bangka Barat, H. Yusderahman, menegaskan bahwa sebuah kota tanpa budaya hanyalah kumpulan batu bata, dan menutup pidatonya dengan pantun Melayu yang disambut tepuk tangan panjang.

Di balik semaraknya festival, investigasi menunjukkan bahwa penyelenggaraan MAF sebagian besar bertumpu pada gotong royong komunitas. Komunitas Daon Sempor bersama relawan lintas generasi menanggung hampir semua kebutuhan acara, mulai dari listrik hingga dokumentasi. Pemerintah daerah hadir memberi dukungan moral, namun belum menetapkan festival ini sebagai agenda resmi tahunan dengan dukungan anggaran berkelanjutan.

Data dari Masterplan Kota Pusaka Mentok 2020–2040 mengungkap, masih banyak bangunan tua Mentok kini dalam kondisi rusak, sementara alokasi APBD untuk kebudayaan masih sangat minim. Hal ini menimbulkan pertanyaan serius, apakah festival seni budaya seperti MAF dapat menjadi strategi nyata penyelamatan identitas kota, atau hanya menjadi perayaan sesaat?

Meski menghadapi tantangan, MAF 2025 menghadirkan suasana meriah dan penuh makna. Anak-anak duduk bersila menyaksikan teater rakyat, orang tua larut dalam nostalgia lagu tradisi, remaja merekam momen lewat ponsel, sementara aroma kopi dan kue tradisional dari stand UMKM melengkapi suasana.

Sejak pertama kali digelar pada 2022 dengan tema “Pada Sediakala” di Museum Timah Indonesia, lalu berlanjut dengan tema “Tenunan Harmoni” pada 2023, MAF terus berkembang. Kini, dengan tema “Tanda Bicara”, festival menegaskan diri sebagai pernyataan budaya: seni adalah napas yang membuat Mentok tetap hidup, bukan sekadar kota tua, melainkan kota kreatif yang menyala dari denyut warganya.

(Didi KBO/Nauval)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_imgspot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments