Jumat, April 3, 2026
No menu items!
Google search engine
BerandaNasionalSunatan massal dr zarril 810 orang normal paham Bersama Tim Media.

Sunatan massal dr zarril 810 orang normal paham Bersama Tim Media.

Infoombbsiberindonesia,com.
Mentok, Bangka Barat — Pagi itu, Kamis (25/12/2025), halaman Rumah Qur’an Sarah Umar di Jalan Pejaksaan, Mentok, tampak lebih hidup dari biasanya. Tangis kecil bercampur tawa, wajah-wajah tegang bercampur rasa penasaran, dan para orang tua yang menunggu dengan doa-doa dalam hati. Di tempat sederhana inilah sebuah kolaborasi kemanusiaan terwujud dalam kegiatan khitanan massal, yang bukan sekadar soal medis, tetapi juga tentang empati, kepedulian dan harapan.

Di tengah aktivitas itu hadir Dr. Zarril, seorang dokter sekaligus Anggota DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Baginya, kehadiran masyarakat yang antusias menjadi pemandangan yang menyejukkan.

“Sebagai dokter dan sebagai anggota dewan, tentu saya sangat senang. Artinya, masih ada orang-orang yang peduli. Kegiatan ini dibiayai oleh donatur, meskipun saya sendiri tidak tahu siapa donaturnya. Tapi justru di situlah letak keindahannya kepedulian yang tulus,” ujar Dr. Zarril.

Yang menarik perhatian Dr. Zarril bukan hanya jumlah peserta, tetapi siapa saja yang menggerakkan kegiatan ini. Panitia yang sebagian besar berusia di atas 40 tahun menurutnya adalah fenomena langka.

“Baru kali ini saya menemukan panitia sunatan massal yang rata-rata usianya di atas 40 tahun, tapi semangatnya luar biasa. Kalau yang di atas 40 saja masih bersemangat, apalagi yang di bawah 40,” katanya sambil tersenyum, menyelipkan candaan kepada pewawancara.

Namun pusat perhatian Dr. Zarril tetap tertuju pada anak-anak. Ia memahami betul bahwa di balik senyum dan hadiah, ada rasa takut yang harus dihadapi seorang anak sebelum dikhitan.

Sebagai tenaga medis, ia menekankan pentingnya pendekatan psikologis.

“Kami dilatih untuk membuat pasien merasa senang terlebih dahulu. Setelah itu baru dijelaskan apa yang akan terjadi. Saya selalu bilang, suntikan itu rasanya seperti dicubit sedikit dan proses sunatnya seperti disentuh. Itu memang kenyataannya,” jelasnya.

Menurutnya, kejujuran yang dibalut dengan bahasa sederhana justru membuat anak lebih tenang. Mereka tahu apa yang akan dihadapi, sehingga rasa takut bisa dikelola.

Kegiatan ini, lanjut Dr. Zarril, adalah contoh nyata kolaborasi yang ideal  antara Rumah Qur’an sebagai penyelenggara, tenaga medis sebagai pelaksana profesional dan wakil rakyat sebagai penggerak kebijakan.

“Kolaborasi seperti ini harus terus ditingkatkan. Dengan kolaborasi, kita bisa membuat negeri ini menjadi lebih baik,” tegasnya.

Tak berhenti di Mentok, Dr. Zarril juga menyampaikan rencana keberlanjutan kegiatan serupa di seluruh wilayah Bangka Belitung.

“InsyaAllah ke depan akan kita lakukan di Bangka dan Belitung. Bahkan sudah ada rencana di Belitung Timur dan Kabupaten Belitung. Selain sunat, kita juga rencanakan operasi tumor jinak kulit yang masih dalam kewenangan dokter umum.”

Bagi Dr. Zarril, kegiatan ini bukan sekadar layanan kesehatan, tetapi juga momentum pendidikan karakter. Ia menyampaikan pesan yang sederhana namun sarat makna.

“Anak-anak ini masih polos, masih suci. Mereka perlu dilatih untuk berani dan tahu apa yang harus dilakukan. Mereka harus diarahkan, punya cita-cita. Mau jadi polisi, tentara, YouTuber apa pun itu yang penting menjadi orang yang takwa, cerdas dan sejahtera.”

Sementara itu, dari sisi penyelenggara, Edi Umar, pemilik sekaligus penggerak Yayasan Rumah Qur’an Sarah Umar, mengisahkan awal mula kegiatan ini.

Rumah Qur’an tersebut berdiri di sebuah rumah warisan orang tuanya yang semula kosong. Daripada dibiarkan, rumah itu dihidupkan dengan kegiatan keagamaan dan sosial.

“Ini rumah kosong, rumah warisan orang tua. Kami isi dengan kegiatan. Khitanan massal ini sudah yang kedua. Kalau kurban sudah tahun keempat,” ungkap Edi Umar.

Yayasan Rumah Qur’an Sarah Umar sendiri telah resmi berbadan hukum sejak tahun 2023. Selain khitanan massal, yayasan ini rutin menggelar kegiatan keagamaan seperti peringatan hari besar Islam, buka puasa bersama, santunan anak yatim, pengajian, tahsin ibu-ibu, hingga pembinaan mualaf.

Edi Umar mengaku sangat bangga dengan kolaborasi bersama Dr. Zarril.

“Saya sangat berterima kasih dan bangga. Beliau sebenarnya hanya meminta jatah 10 anak untuk disunat tahun ini, tapi yang terdaftar ada 17 anak. Itu artinya melebihi aspirasinya,” ujarnya.

Antusiasme masyarakat, menurut Edi Umar, menjadi indikator keberhasilan kegiatan ini. Para orang tua merespons cepat, bahkan sebagian harus menunggu kesempatan tahun depan karena keterbatasan kuota.

“Kami buatkan grup persiapan untuk orang tua. Dari awal mereka sudah gembira. Anak-anak juga senang, ada hadiah-hadiah kecil. Alhamdulillah responsnya sangat positif,” katanya.

Di penghujung kegiatan, suasana berubah menjadi lebih ringan. Anak-anak yang semula tegang mulai tersenyum, orang tua lega dan panitia saling berbagi cerita. Di tempat sederhana itu, khitanan massal menjadi lebih dari sekadar prosedur medis tetapi ia menjelma menjadi ruang perjumpaan nilai antara  kepedulian, kesabaran dan harapan.

Seperti pesan Dr. Zarril kepada para orang tua.

“Sebagai orang tua, kita semua masih belajar. Kita perlu lebih sabar. Sabar itu bukan hanya menahan emosi, tapi tahu apa yang harus dilakukan.”

hPagi itu, di Rumah Qur’an Sarah Umar, kesabaran dan kepedulian benar-benar menemukan maknanya.

Didi KBO / Belva

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_imgspot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments