
Infoombbsiberindonesia,com
Mentok, Bangka Barat — BAZNAS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung kembali menegaskan perannya sebagai garda terdepan pembangunan sosial melalui penyaluran zakat, layanan kesehatan gratis, dan penguatan nilai keumatan di Masjid Agung Baiturrahman, Mentok, Selasa (20/1/2026). Kegiatan yang digelar dalam rangka Hari Ulang Tahun ke-25 BAZNAS Republik Indonesia itu menyasar ratusan mustahik dan masyarakat rentan, sekaligus memperlihatkan bagaimana zakat dikelola sebagai instrumen pembangunan yang nyata dan dirasakan langsung oleh masyarakat.
Dalam kegiatan tersebut, BAZNAS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bersama Pemerintah Kabupaten Bangka Barat menyalurkan bantuan zakat kepada ratusan penerima manfaat, menggelar pemeriksaan kesehatan gratis bagi lansia dan warga kurang mampu, serta menyelenggarakan lomba kaligrafi bagi anak-anak dan pelajar. Rangkaian kegiatan ini menjadi bagian dari strategi BAZNAS dalam memperkuat fungsi masjid sebagai pusat pelayanan sosial dan pemberdayaan umat.
Ketua BAZNAS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Guntur Budi Wibowo, menegaskan bahwa zakat harus dikelola secara profesional dan berkelanjutan agar benar-benar berfungsi sebagai penggerak perubahan sosial.
“Zakat tidak cukup dimaknai sebagai kewajiban individual. Ia harus dikelola sebagai kekuatan sosial yang terorganisasi, profesional dan berkelanjutan. Di situlah peran BAZNAS, memastikan zakat benar-benar bekerja untuk mengangkat martabat rakyat dan mengurangi ketimpangan secara nyata,” ujarnya.
Sejak aktif beroperasi kurang dari dua bulan terakhir, BAZNAS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung telah melaksanakan tiga kali penyaluran zakat dengan total 260 mustahik sebagai penerima manfaat. Seluruh data penerima bantuan diserahkan kepada pemerintah daerah sebagai bentuk komitmen terhadap transparansi dan akuntabilitas, dua prinsip yang menjadi fondasi utama dalam membangun kepercayaan publik.
“Kami ingin masyarakat melihat dan merasakan langsung hasilnya. Zakat yang dikelola BAZNAS tidak berhenti di laporan administrasi, tetapi hadir dalam kehidupan sehari-hari. Dari masjid, kami bergerak ke masyarakat,” kata Guntur.
Di Masjid Agung Baiturrahman, wajah pembangunan tampak dalam bentuk yang sederhana namun bermakna. Kursi-kursi plastik disusun rapi di sudut masjid, menjadi ruang tunggu bagi para lansia yang hendak memeriksakan tekanan darah dan kondisi kesehatan mereka. Sebagian datang dengan tongkat, sebagian menggenggam kartu identitas dengan tangan bergetar. Petugas medis memeriksa dengan sabar, mencatat setiap keluhan, lalu memberi saran dengan bahasa yang mudah dipahami.
Bagi banyak warga, layanan kesehatan gratis tersebut bukan sekadar fasilitas, melainkan bentuk kehadiran negara yang jarang mereka rasakan. Di momen-momen seperti itulah, pembangunan kehilangan wajah elitisnya dan berubah menjadi sesuatu yang personal, manusiawi dan menyentuh.
Di lorong lain masjid, suasana berbeda terlihat. Anak-anak dan pelajar duduk bersila, memegang kuas kecil, menggoreskan ayat-ayat suci Al-Qur’an dalam lomba kaligrafi. Kegiatan ini menjadi simbol bahwa zakat tidak hanya bekerja untuk menjawab kebutuhan hari ini, tetapi juga menanamkan nilai, karakter dan identitas bagi generasi masa depan.
Bagi BAZNAS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Bangka Barat dipandang sebagai wilayah strategis dalam penguatan ekosistem zakat berbasis masjid. Masjid tidak hanya difungsikan sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat layanan sosial dan ruang tumbuh solidaritas masyarakat.
“Kami ingin masjid hidup. Bukan hanya ramai saat ibadah, tetapi juga aktif sebagai pusat solusi sosial,” ujar Guntur.
Apa yang berlangsung di Mentok memperlihatkan pesan yang kuat namun disampaikan tanpa gegap gempita dalam pembangunan yang dipercaya adalah pembangunan yang dirasakan. Pemerintah daerah berperan sebagai penopang kebijakan, sementara BAZNAS menjalankan fungsi distribusi keadilan sosial dengan pendekatan yang terukur, transparan dan menyentuh.
Didi /Belva KBO babel



