Minggu, Mei 3, 2026
No menu items!
Google search engine
BerandaNasionalSYARIFUDDIN nelayan Di pantai Batu Rakit Sangat Mendukung Penertiban Tambang ilegal .

SYARIFUDDIN nelayan Di pantai Batu Rakit Sangat Mendukung Penertiban Tambang ilegal .

Infoombbsiberindonesia com.
MENTOK, BANGKA BARAT — Laut tidak pernah benar-benar diam. Ia menyimpan ingatan tentang jaring yang dulu penuh, tentang air yang dulu jernih dan tentang tangan-tangan yang pelan-pelan mengeruknya hingga nyaris tidak bersisa.

Di Pantai Batu Rakit, Minggu (3/4/2026), ingatan itu menemukan suaranya. Bukan dalam teriakan, melainkan dalam kalimat-kalimat yang dituturkan perlahan oleh nelayan yang terlalu lama hidup di bawah bayang-bayang tambang ilegal di perairan Tembelok–Keranggan.

Penertiban yang dilakukan Polres Bangka Barat disambut sebagai harapan. Namun harapan itu datang bersama pertanyaan yang tak kalah kuat: mengapa perlindungan selalu hadir setelah kerusakan menjadi nyata?

Di tepi pantai, spanduk larangan terbentang secara tegas, kontras dan terlambat. Ia berdiri di antara rumah kayu yang mulai lapuk, di bawah matahari yang menyinari laut yang tidak lagi sepenuhnya ramah. Dalam diamnya, spanduk itu seperti mengakui sesuatu yang lama dibiarkan bahwa laut telah diperlakukan bukan sebagai ruang hidup, melainkan sebagai ruang untuk dihabiskan.

Syarifuddin (60), nelayan Pantai Batu Rakit, tidak berbicara dengan istilah besar. Ia memilih kata-kata sederhana, tetapi justru di situlah letak kedalamannya.

“Kami sangat mendukung penertiban ini. Karena bagi kami, laut itu hidup. Kalau laut aman, kami bisa makan. Kalau laut rusak, kami kehilangan semuanya,” ujarnya.

Bagi Syarifuddin, laut bukan sekadar bentang geografis. Ia sebagai dapur, sekolah dan masa depan yang tidak bisa digantikan.

“Selama ini kami melihat sendiri. Air berubah, ikan menjauh, hasil tangkap menurun. Kami melaut lebih jauh, tapi belum tentu pulang membawa apa-apa,” katanya.

Dalam kalimat itu, tersimpan realitas yang tidak selalu terlihat tentang biaya yang meningkat, tenaga yang terkuras dan ketidakpastian yang menjadi keseharian.

Apa yang terjadi di Tembelok–Keranggan mencerminkan persoalan yang lebih luas tentang retaknya keseimbangan antara eksploitasi dan perlindungan.

Secara hukum, aktivitas tambang ilegal jelas melanggar. Regulasi telah lama tersedia. Larangan telah lama ditetapkan. Namun di banyak ruang pesisir, hukum kerap berjalan lebih lambat dari praktik di lapangan.

Dalam konteks ini, laut menjadi ruang yang rentan terbuka untuk diambil, tetapi sering kali tanpa penjagaan yang memadai.

“Kalau aturan sudah ada, seharusnya laut tidak sampai rusak seperti ini,” kata Syarifuddin.

Kalimat itu bukan sekadar keluhan. Ia sebagai refleksi atas jarak antara kebijakan dan kenyataan.

Bagi nelayan kecil, kehadiran tambang ilegal bukan hanya persoalan lingkungan. Ia juga soal ruang yang semakin sempit.

Perairan yang dulu bebas kini berubah menjadi wilayah yang harus dibagi antara nelayan dan aktivitas yang tidak semestinya ada.

“Kami ini pakai perahu kecil. Ketika tambang masuk, kami seperti tersingkir dari laut kami sendiri,” ujar Syarifuddin.

Perubahan paling nyata, menurutnya, terlihat pada air.

“Air jadi keruh. Ikan berkurang. Kami melaut lebih jauh, tapi hasilnya tidak pasti,” katanya.

Di balik perubahan itu, ada konsekuensi yang tidak selalu terlihat dengan meningkatnya biaya, berkurangnya pendapatan dan bertambahnya beban hidup.

Spanduk larangan yang dipasang di lokasi menjadi simbol ketegasan. Namun bagi warga, simbol itu juga menyimpan ironi.

Ia berdiri di depan rumah-rumah sederhana yang telah lama hidup berdampingan dengan ketidakpastian. Ia berbicara tentang larangan, tetapi datang setelah kerusakan terjadi.

“Kami tidak minta banyak. Kami hanya ingin laut ini dijaga,” ujar Syarifuddin.

“Jangan sampai kami terus diminta bertahan, sementara yang merusak tidak benar-benar dihentikan,” tambahnya.

Nelayan Batu Rakit menyambut penertiban ini dengan harapan. Namun harapan itu tidak berdiri sendiri. Ia disertai kewaspadaan yang lahir dari pengalaman.

“Kami mendukung. Tapi kami berharap ini tidak berhenti di sini,” kata Syarifuddin.

“Kalau penertiban hanya sesaat, laut akan kembali rusak. Kami yang kembali menanggung akibatnya,” lanjutnya.

Bagi nelayan, keberlanjutan tindakan jauh lebih penting daripada momentum.

Di balik pernyataan yang tenang, tersimpan kritik yang halus namun tajam.

“Kalau dibiarkan, tambang ilegal itu seperti tikus di rumah. Lama-lama tidak tersisa apa-apa,” ujar Syarifuddin.

Perumpamaan itu sederhana, tetapi mengandung makna yang dalam kerusakan tidak selalu datang sekaligus. Ia terjadi perlahan, hingga akhirnya disadari ketika semuanya telah berubah.

Bagi nelayan Batu Rakit, persoalan ini bukan hanya tentang hari ini. Ia tentang masa depan.

“Kami ingin anak cucu kami masih bisa melihat ikan, bukan hanya mendengar cerita tentang ikan,” kata Syarifuddin.

Di kalimat itu, tersimpan harapan sekaligus peringatan.

Bahwa laut bukan hanya tentang sumber daya, tetapi tentang keberlanjutan hidup.
Bahwa setiap keterlambatan dalam menjaga laut akan meninggalkan konsekuensi yang tidak mudah diperbaiki.

Di Pantai Batu Rakit, hari itu, negara akhirnya hadir dengan spanduk dipasang, larangan ditegaskan dan penertiban dilakukan.

Namun bagi nelayan, pertanyaan yang lebih penting belum sepenuhnya terjawab:

Apakah ini awal dari perubahan yang konsisten atau sekadar jeda dalam siklus panjang eksploitasi?

Sebab bagi mereka, laut bukan ruang yang bisa menunggu.

Ia memberi ketika dijaga.
Ia diam ketika rusak.
Ketika ia benar-benar berhenti memberi,
yang hilang bukan hanya ikan melainkan masa depan.

Didi /Belva KBO babel

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_imgspot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments