Senin, Mei 11, 2026
No menu items!
Google search engine
BerandaNasionalPerpustakaan Daerah Bangka Barat Buktikan Lansia Juga Berhak Mendapatkan Literasi Berkualitas

Perpustakaan Daerah Bangka Barat Buktikan Lansia Juga Berhak Mendapatkan Literasi Berkualitas

Infoombbsiberindonesia.com.
MENTOK, BANGKA BARAT — Perpustakaan Daerah Kabupaten Bangka Barat menghadirkan wajah baru literasi melalui pembukaan Sekolah Lansia Salimah (SALSA), Sabtu (9/5/2026). Program kolaborasi antara PD Salimah Bangka Barat dan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bangka Barat itu menjadi ruang belajar sekaligus ruang sosial bagi para lansia agar tetap sehat, aktif dan produktif di usia senja.

Sejak pagi, suasana lantai dua Gedung Perpustakaan Daerah Bangka Barat tampak berbeda. Puluhan ibu lansia datang dengan langkah perlahan sambil saling menyapa dan berbagi cerita. Di ruang yang biasanya identik dengan rak buku dan suasana tenang, kini terdengar tawa ringan dan percakapan hangat tentang kesehatan hingga kehidupan sehari-hari.

Sebanyak 20 peserta lansia dari wilayah Mentok mengikuti kegiatan perdana tersebut. Acara diawali dengan pemeriksaan kesehatan berupa pengecekan tekanan darah dan penimbangan berat badan, lalu dilanjutkan dengan senam kegel lansia.

Kegiatan itu bukan sekadar olahraga ringan. Bagi sebagian peserta, SALSA menjadi ruang untuk kembali merasa diperhatikan dan tetap memiliki aktivitas sosial di tengah perubahan usia yang sering membuat lansia merasa mulai tersisih.

Senam kegel yang diberikan dalam kegiatan tersebut bertujuan membantu mengurangi risiko inkontenensia urine atau kesulitan mengontrol buang air kecil pada perempuan lanjut usia. Materi kesehatan seperti itu dinilai penting karena masih jarang dibahas secara terbuka di lingkungan masyarakat.

Ketua PD Salimah Bangka Barat, Riza Umami, mengatakan SALSA hadir untuk membangun ruang belajar yang membuat lansia tetap sehat secara fisik dan kuat secara mental.

“Lansia tetap membutuhkan ruang bertemu, ruang belajar dan ruang untuk merasa dihargai. Kami ingin menghadirkan suasana yang membuat para ibu tetap aktif dan bahagia,” ujar Riza.

Menurutnya, usia lanjut bukan alasan untuk berhenti belajar maupun berhenti berkontribusi dalam kehidupan sosial.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bangka Barat, Farouk Yohansyah, ST., M.Pd, menilai SALSA menjadi bagian penting dari transformasi perpustakaan modern berbasis inklusi sosial.

Menurut Farouk, perpustakaan saat ini tidak cukup hanya menjadi tempat membaca buku, tetapi harus mampu hadir sebagai ruang hidup masyarakat.

“Perpustakaan harus menjadi tempat bertemunya edukasi, kesehatan dan pemberdayaan sosial. Lansia juga memiliki hak mendapatkan ruang belajar dan ruang interaksi sosial yang sehat,” kata Farouk.

Ia menjelaskan bahwa konsep literasi saat ini mengalami perubahan besar. Literasi tidak lagi hanya dipahami sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami kesehatan, menjaga kualitas hidup dan membangun hubungan sosial yang baik.

Karena itu, kata Farouk, perpustakaan perlu terus menghadirkan inovasi yang menyentuh kebutuhan masyarakat secara nyata.

“Kami ingin perpustakaan hadir lebih dekat dengan masyarakat. Ketika masyarakat datang ke perpustakaan untuk belajar menjaga kesehatan dan memperkuat kualitas hidup, maka literasi sedang bekerja secara nyata,” ujarnya.

Kepala Bidang Pembinaan Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Bangka Barat, Eka Octawianto, S.T., M.AP, mengatakan SALSA menjadi contoh bagaimana perpustakaan dapat berkembang menjadi pusat pembelajaran sepanjang hayat.

Menurut Eka, perpustakaan modern harus mampu menghadirkan manfaat langsung bagi masyarakat, termasuk kelompok lansia yang sering luput dari perhatian ruang publik.

“Perpustakaan bukan hanya ruang membaca, tetapi juga ruang kemanusiaan. Ketika lansia datang untuk belajar menjaga kesehatan dan memperkuat hubungan sosial, maka perpustakaan telah menjalankan fungsi sosialnya secara utuh,” jelasnya.

Ia juga mengapresiasi antusiasme para peserta yang tetap aktif mengikuti kegiatan hingga selesai meski berlangsung lebih dari dua jam.

Program SALSA direncanakan berlangsung selama enam bulan hingga Oktober 2026. Para peserta nantinya akan mengikuti berbagai agenda edukatif mulai dari kesehatan, kebugaran, penguatan mental hingga aktivitas sosial.

Jika seluruh rangkaian program berjalan baik, kegiatan akan ditutup dengan wisuda lansia sebagai simbol penghargaan atas semangat belajar para peserta.

Di tengah dunia modern yang bergerak cepat dan sering melupakan kelompok usia lanjut, SALSA menjadi pengingat bahwa proses belajar tidak pernah berhenti oleh usia.

Di Perpustakaan Daerah Bangka Barat itu, literasi hadir bukan hanya lewat buku, tetapi juga melalui upaya menjaga kesehatan, merawat semangat hidup dan memastikan para lansia tetap merasa berarti dalam kehidupan sosial mereka.

Didi/Belva kBO babel.

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_imgspot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments