
Infoombbsiberindonesia com.
MENTOK, BANGKA BARAT — Gemuruh tepuk tangan memenuhi Rumah Peradaban Mentok, Kamis (14/5/2026). Di bawah sorot lampu panggung, tujuh pasang finalis Bujang Dayang Bangka Barat 2026 berdiri dengan wajah tegang bercampur bangga saat selempang mulai disematkan di pundak mereka.
Bagi sebagian orang, momen itu mungkin hanya seremoni tahunan pemilihan duta daerah. Namun bagi Pj Sekretaris Daerah Kabupaten Bangka Barat, Abi Mayu, panggung tersebut menyimpan makna yang jauh lebih besar.
Menurutnya, Bujang Dayang bukan sekadar soal penampilan, busana atau kemampuan tampil di depan publik. Lebih dari itu, ajang ini sebagai ruang pembentukan karakter generasi muda Bangka Barat.
“Bujang Dayang bukan hanya kompetisi penampilan. Ini adalah proses pembentukan karakter, wawasan, kepemimpinan dan kecintaan generasi muda terhadap daerahnya sendiri,” kata Abi Mayu dalam sambutannya pada acara Sashing Ceremony dan unjuk bakat Bujang Dayang Bangka Barat 2026.
Pernyataan itu langsung menjadi sorotan di tengah suasana acara yang hangat dan emosional. Sebab di balik kemeriahan panggung, Pemerintah Kabupaten Bangka Barat ternyata sedang membawa misi besar untuk menyiapkan generasi muda yang tidak kehilangan identitas daerahnya sendiri.
Abi Mayu menilai anak muda hari ini hidup di tengah arus digitalisasi dan perubahan zaman yang begitu cepat. Informasi global masuk tanpa batas, tren luar negeri mudah diikuti, namun di saat yang sama banyak generasi muda perlahan mulai menjauh dari budaya dan akar daerahnya sendiri.
Karena itu, menurut dia, ajang Bujang Dayang harus menjadi ruang pendidikan sosial dan budaya bagi anak muda.
“Anak muda hari ini jangan hanya menjadi penonton di daerahnya sendiri. Mereka harus menjadi pelaku, penggerak, sekaligus penjaga kebudayaan dan pariwisata Bangka Barat,” ujarnya.
Tema tahun ini, “The Living Heritage: Penjaga Alam, Pewaris Adat,” disebut Abi Mayu bukan sekadar slogan seremonial. Tema tersebut dinilai menjadi pesan moral agar generasi muda tetap mengenal adat, mencintai lingkungan dan memahami identitas Bangka Barat di tengah perubahan zaman.
Suasana siang itu terasa semakin emosional ketika satu per satu nama finalis dipanggil ke atas panggung. Beberapa finalis tampak tersenyum lega, sementara yang lain berusaha menahan haru di depan orang tua mereka yang duduk di kursi penonton.
Bagi banyak keluarga, momen itu bukan hanya tentang anak mereka tampil di atas panggung. Itu sebagai bukti bahwa anak-anak muda Bangka Barat memiliki keberanian untuk tumbuh, belajar dan membawa mimpi besar bagi masa depannya.
Abi Mayu mengatakan perjalanan menuju grand final juga bukan proses yang mudah. Dari sekitar 114 peserta audisi, hanya 32 semifinalis yang mampu bertahan hingga akhirnya terpilih tujuh pasang finalis terbaik.
Menurut dia, proses panjang itulah yang sebenarnya paling penting dalam pembentukan karakter generasi muda.
“Kegagalan bukan akhir perjalanan. Justru dari proses itulah karakter dibentuk. Anak-anak muda harus belajar bahwa mimpi besar membutuhkan perjuangan besar,” katanya.
Ia menilai generasi muda saat ini harus dibiasakan menghadapi proses dan tekanan agar tidak tumbuh dalam budaya serba instan. Sebab keberhasilan, menurutnya, tidak hanya ditentukan oleh kemenangan, tetapi oleh kemampuan bertahan dalam perjuangan panjang.
Abi Mayu juga mengingatkan bahwa seorang Bujang dan Dayang tidak cukup hanya memiliki wajah menarik atau kemampuan berbicara di depan publik. Mereka juga harus memiliki kepedulian sosial, wawasan budaya, serta mampu menjadi inspirasi bagi masyarakat.
“Daerah ini membutuhkan anak-anak muda yang bisa menjadi teladan. Yang mampu berbicara tentang budaya dengan bangga, tentang pariwisata dengan cinta dan tentang masa depan dengan optimisme,” ungkapnya.
Di tengah kondisi efisiensi anggaran daerah, Pemerintah Kabupaten Bangka Barat tetap mempertahankan ajang Bujang Dayang. Sebab pemerintah menilai investasi terbesar daerah bukan hanya pembangunan fisik, melainkan pembangunan manusia.
Karena di pundak generasi muda itulah masa depan Bangka Barat perlahan sedang dibangun.
Menutup sambutannya, Abi Mayu menitipkan pesan sederhana namun mendalam kepada seluruh finalis untuk jangan takut gagal, jangan berhenti bermimpi, dan jangan pernah lelah berjuang.
Sebab dari sebuah panggung sederhana di Rumah Peradaban Mentok, Bangka Barat sedang menyiapkan generasi muda yang suatu hari nanti bukan hanya dikenal karena prestasinya, tetapi juga karena kemampuannya menjaga budaya, merawat daerah dan menginspirasi banyak orang.
.Didi/Belva KBO babel



