Senin, Juni 1, 2026
No menu items!
Google search engine
BerandaNasionalLaut Tempilang Menunggu Keadilan: Reklamasi Mati, Dugaan Timah Marak Diselundupkan

Laut Tempilang Menunggu Keadilan: Reklamasi Mati, Dugaan Timah Marak Diselundupkan

Infoombbsiberindonesia.com.
Tempilang, Bangka Barat — Rumpon reklamasi yang seharusnya membantu memulihkan habitat ikan di laut Tempilang hingga kini masih teronggok di daratan. Di saat yang sama, nelayan mengaku semakin sulit mencari ikan dan mulai resah dengan dugaan aktivitas peredaran timah yang menurut mereka masih berlangsung di perairan setempat.

Di atas kertas, reklamasi bertujuan memperbaiki lingkungan yang terdampak pertambangan.

Di lapangan, warga justru melihat beton-beton besar ditumbuhi semak.

Laut yang dijanjikan pulih belum menunjukkan tanda-tanda benar-benar sembuh.

“Kalau memang ini reklamasi, kenapa laut kami tetap rusak?” kata Hasan (54), nelayan Air Lintang yang identitas lengkapnya disamarkan, saat ditemui di kawasan Pantai Pasir Kuning, Senin (1/6/2026).

Pantai Pasir Kuning sore itu dipenuhi wisatawan.

Anak-anak bermain.

Pedagang kelapa muda melayani pembeli.

Matahari perlahan turun di ufuk barat.

Namun tak jauh dari lokasi wisata, puluhan rumpon beton terlihat bertumpuk di daratan.

Sebagian retak.

Sebagian mulai ditumbuhi rumput liar.

Menurut warga, rumpon tersebut sudah berada di lokasi selama bertahun-tahun.

Padahal tujuan awalnya untuk  ditempatkan di dasar laut untuk membantu pemulihan habitat ikan.

Hasan masih ingat ketika beton-beton itu pertama kali didatangkan.

Saat itu masyarakat berharap laut yang rusak akibat aktivitas pertambangan bisa diperbaiki.

Harapan itu kini berubah menjadi tanda tanya.

“Kami tahunya cuma datang, ditumpuk, lalu selesai,” ujarnya.

Di Tempilang, rumpon-rumpon itu perlahan berubah menjadi simbol yang ironis.

Ia dibangun atas nama pemulihan.

Tetapi hingga kini justru lebih sering menjadi pengingat bahwa pemulihan belum benar-benar terjadi.

Bagi nelayan, persoalan lingkungan tidak diukur dari laporan.

Mereka mengukurnya dari hasil tangkapan.

Dari berapa liter solar yang harus dibakar.

Dari berapa jam mereka harus berada di laut.

Hasan mengaku kini harus melaut lebih jauh dibanding beberapa tahun lalu.

Biaya operasional meningkat.

Sementara hasil tangkapan tidak selalu bertambah.

“Kalau dulu dekat sudah dapat ikan. Sekarang harus jauh,” katanya.

Situasi itu membuat banyak nelayan merasa berada dalam posisi sulit.

Mereka hidup di wilayah yang menghasilkan komoditas bernilai tinggi.

Tetapi mereka justru harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan penghasilan.

Selain soal reklamasi, keresahan lain muncul dari dugaan aktivitas timah yang menurut sejumlah warga masih terjadi di kawasan laut Tempilang.

Beberapa nelayan mengaku masih sering melihat pergerakan kapal tertentu di perairan yang berkaitan dengan aktivitas pertimahan.

Keterangan tersebut merupakan pandangan warga yang memerlukan verifikasi lebih lanjut dari aparat penegak hukum dan instansi terkait.

Namun bagi masyarakat pesisir, persoalan itu bukan sekadar soal aturan.

Menurut mereka, persoalan tersebut menyangkut masa depan laut.

“Kalau dulu katanya malam. Sekarang masyarakat merasa siang juga ada yang jalan,” ujar Ali (56), nelayan Tempilang yang identitasnya juga disamarkan.

Ali mengatakan nelayan sering merasa hanya menerima dampak lingkungan tanpa benar-benar merasakan manfaat dari aktivitas ekonomi yang berlangsung di laut.

Menurutnya, jika sumber daya alam dikelola secara resmi dan bertanggung jawab, masyarakat setidaknya masih memiliki harapan terhadap program pemulihan lingkungan maupun kompensasi.

“Tapi kalau keluar diam-diam, kami cuma dapat laut keruh,” katanya.

Tempilang menyimpan ironi yang sulit diabaikan.

Pantai Pasir Kuning dipromosikan sebagai destinasi wisata.

Foto-foto senja terus menghiasi media sosial.

Wisatawan datang menikmati keindahan alam.

Namun di balik panorama tersebut, nelayan menyimpan kegelisahan yang berbeda.

Mereka memikirkan hasil tangkapan yang menurun.

Mereka memikirkan biaya melaut yang meningkat.

Mereka memikirkan kondisi laut yang menurut mereka semakin berubah.

Sementara itu, rumpon-rumpon reklamasi masih berdiri di daratan.

Diam.

Tidak bergerak.

Seolah menunggu seseorang mengingat kembali tujuan awal keberadaannya.

Bagi masyarakat pesisir Tempilang, persoalannya sebenarnya sederhana.

Mereka tidak menolak pembangunan.

Mereka tidak menolak aktivitas ekonomi.

Mereka hanya berharap laut yang menjadi sumber kehidupan mereka tidak ditinggalkan setelah kekayaannya diambil.

Karena bagi nelayan, laut bukan sekadar hamparan air.

Laut sebagai pekerjaan.

Laut sebagai masa depan.

Di Tempilang, masa depan itu kini terasa semakin jauh dari jangkauan mereka.

Pertanyaan yang terus bergema di bibir pantai pun masih sama:

Jika laut ini menghasilkan begitu banyak kekayaan, mengapa nelayan justru semakin khawatir kehilangan lautnya sendiri?

Didi/ Belva KBO babel

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_imgspot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments