Kamis, April 30, 2026
No menu items!
Google search engine
BerandaNasionalAhmad Nahwani: Limbah Industri Harus Jadi Sumber Daya Baru, Bukan Beban Lingkungan*

Ahmad Nahwani: Limbah Industri Harus Jadi Sumber Daya Baru, Bukan Beban Lingkungan*

Infoombbsiberindonesia com.
*Pangkalpinang* – Transformasi industri menuju arah yang lebih berkelanjutan kini bukan lagi sekadar wacana, melainkan kebutuhan mendesak di tengah tekanan krisis lingkungan global. Hal ini ditegaskan oleh Dr. Ir. Ahmad Nahwani, ST, MT, pria kelahiran Belinyu, Kepulauan Bangka Belitung, dalam wawancara ujian profesional yang mengantarkannya meraih gelar Insinyur Profesional Utama (IPU) dari Persatuan Insinyur Indonesia.

Dalam pemaparannya di hadapan tim ahli teknik industri PII pada Jumat (24/4/2026), Ahmad Nahwani menekankan bahwa pendekatan berkelanjutan dalam teknik industri harus dimulai sejak tahap paling awal, yakni perancangan produk atau *eco-design*. Menurutnya, seorang insinyur tidak lagi hanya berpikir soal fungsi dan biaya, tetapi juga harus mempertimbangkan seluruh siklus hidup produk, mulai dari bahan baku hingga limbah yang dihasilkan.

“Produk yang dirancang hari ini harus sudah memikirkan dampaknya di masa depan. Penggunaan material yang dapat didaur ulang, tidak beracun, serta berbasis hayati menjadi kunci utama,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, efisiensi juga menjadi bagian tak terpisahkan dalam konsep ini. Produk harus tetap kuat dan fungsional, namun dengan penggunaan bahan baku yang lebih sedikit. Pendekatan ini tidak hanya menekan biaya produksi, tetapi juga mengurangi eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan.

Lebih jauh, Ahmad Nahwani menyoroti pentingnya penerapan *green manufacturing* di tingkat produksi. Optimalisasi proses di lantai pabrik, kata dia, harus diarahkan untuk menekan jejak karbon secara signifikan. Penggunaan mesin hemat energi serta pemanfaatan teknologi sensor pintar berbasis Internet of Things (IoT) memungkinkan efisiensi energi yang lebih presisi, termasuk mematikan daya secara otomatis saat mesin tidak digunakan.

Tak kalah penting, pengelolaan limbah produksi juga menjadi perhatian serius. Ia menekankan bahwa limbah tidak boleh lagi dipandang sebagai residu yang harus dibuang, melainkan sebagai potensi sumber daya baru. “Sisa produksi harus diolah agar bisa kembali masuk ke jalur produksi atau bahkan dimanfaatkan oleh industri lain,” ujarnya.

Konsep ini kemudian berkembang ke arah yang lebih luas melalui *industrial symbiosis* atau simbiosis industri. Dalam skema ini, limbah dari satu industri dapat menjadi bahan baku bagi industri lainnya. Ahmad Nahwani mencontohkan pemanfaatan uap panas sisa dari pembangkit listrik yang dapat dialirkan untuk mendukung proses produksi di pabrik lain, seperti industri makanan.

Menurutnya, pola kolaboratif semacam ini tidak hanya meningkatkan efisiensi energi, tetapi juga menciptakan ekosistem industri yang lebih terintegrasi dan ramah lingkungan.

Pencapaian gelar IPU yang diraihnya bukan sekadar pengakuan profesional, tetapi juga menjadi momentum untuk terus mendorong penerapan prinsip-prinsip keberlanjutan di sektor industri. Ahmad Nahwani berharap, para insinyur di Indonesia dapat mengambil peran lebih besar dalam menghadirkan solusi inovatif yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga menjaga keseimbangan lingkungan.

“Industri masa depan adalah industri yang mampu bertumbuh tanpa merusak. Di situlah peran insinyur menjadi sangat krusial,” tegasnya.

(Didi KBO Babel)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_imgspot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments