Infoombbsiberindonesia.com.
MENTOK, BANGKA BARAT – Di tengah hijaunya perbukitan Desa Pelangas, Kecamatan Simpang Teritip, ratusan masyarakat keturunan Suku Jerieng kembali melangkahkan kaki menuju Bukit Penyabung, Senin (29/6/2026). Mereka datang bukan untuk sebuah pesta, bukan pula untuk sebuah perayaan meriah. Mereka datang membawa rasa syukur, harapan dan doa yang telah diwariskan oleh leluhur mereka selama berabad-abad melalui sebuah tradisi yang hingga kini tetap hidup, yakni Sedekah Gunung.
Suara gong tua yang menggema di kaki bukit seakan menjadi penanda dimulainya perjalanan spiritual masyarakat Jerieng. Para tetua adat berjalan di barisan depan, diikuti para orang tua, pemuda, hingga anak-anak yang dengan khidmat mengikuti setiap tahapan prosesi. Tradisi yang dilaksanakan setiap selesai musim tanam padi itu bukan hanya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat adat, tetapi juga menjadi simbol hubungan harmonis antara manusia, alam dan Tuhan Yang Maha Esa.
Keberlangsungan tradisi tersebut mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Bangka Barat melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Pemerintah menilai Sedekah Gunung bukan sekadar ritual tahunan, melainkan warisan budaya yang memiliki nilai sejarah, spiritual, sosial dan pariwisata yang sangat besar bagi daerah.
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangka Barat, Fachriasyah, saat membacakan sambutan pada pembukaan Tradisi Sedekah Gunung.
Dalam sambutannya, Fachriasyah mengatakan bahwa masyarakat Desa Pelangas kembali melaksanakan Sedekah Gunung sebagai tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat keturunan Jerieng sejak zaman dahulu.
“Pada hari ini, tanggal 29 Juni 2026, masyarakat Desa Pelangas keturunan Jerieng melaksanakan Tradisi Sedekah Gunung, yaitu tradisi yang telah dilaksanakan oleh masyarakat Jerieng semenjak lampau secara turun-temurun. Acara ini diselenggarakan setiap tahunnya, yaitu pada saat selesai menanam padi,” ujar Fachriasyah.
Menurut dia, keberlangsungan tradisi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Jerieng masih memegang teguh nilai-nilai budaya yang diwariskan para leluhur. Di tengah arus modernisasi yang semakin kuat, masyarakat tetap mempertahankan adat sebagai bagian dari jati diri mereka.
Fachriasyah menjelaskan, Sedekah Gunung lahir dari kehidupan masyarakat agraris yang menggantungkan hidup pada hasil kebun, ladang dan hutan. Karena itu, setelah menyelesaikan musim tanam, masyarakat berkumpul untuk memanjatkan doa sebagai bentuk rasa syukur sekaligus memohon keberkahan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
“Tujuan Sedekah Gunung adalah sebagai ungkapan harapan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar diberikan hasil panen yang berlimpah, baik dari darat atau kebun maupun hutan. Selain itu masyarakat juga berdoa meminta keselamatan dan keberkahan dengan harapan hasil panen tahun ini akan lebih baik daripada tahun sebelumnya,” katanya.
Bagi masyarakat Jerieng, lanjutnya, hasil panen bukan sekadar persoalan ekonomi.
Panen sebagai anugerah.
Hutan bukan hanya sumber penghasilan, tetapi juga bagian dari kehidupan yang harus dijaga.
Kebun bukan sekadar tempat bercocok tanam, melainkan ruang tempat manusia belajar menghargai alam sebagai titipan Tuhan.
Nilai-nilai tersebut menjadikan Sedekah Gunung memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar ritual adat.
Tradisi ini mengajarkan rasa syukur, gotong royong, penghormatan kepada leluhur, kepedulian terhadap lingkungan, sekaligus mempererat hubungan antargenerasi agar budaya tidak terputus oleh perkembangan zaman.
Atas nilai-nilai luhur tersebut, Sedekah Gunung akhirnya memperoleh pengakuan dari pemerintah pusat.
Fachriasyah mengungkapkan bahwa pada tahun 2021 tradisi masyarakat Jerieng itu resmi ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia.
“Sedekah Gunung adalah kegiatan adat yang telah ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada tahun 2021 sebagai Warisan Budaya Tak benda Indonesia,” ujarnya.
Menurutnya, penetapan tersebut menjadi kebanggaan besar bagi masyarakat Bangka Barat sekaligus menjadi amanah untuk terus menjaga keberlangsungan tradisi tersebut.
Ia menilai, pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak benda tidak boleh berhenti sebatas status administratif.
Sebaliknya, status tersebut harus menjadi semangat baru untuk memperkuat pelestarian budaya sekaligus memperkenalkannya kepada masyarakat yang lebih luas.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten Bangka Barat terus menunjukkan komitmennya melalui dukungan terhadap penyelenggaraan Sedekah Gunung.
Melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, pemerintah daerah kembali memfasilitasi pelaksanaan kegiatan adat tersebut dengan mengalokasikan anggaran sebesar Rp20 juta.
“Guna mendukung hal tersebut, Pemerintah Daerah melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangka Barat memfasilitasi kegiatan ini dengan alokasi anggaran sebesar Rp20 juta,” kata Fachriasyah.
Menurutnya, dukungan tersebut merupakan bentuk kehadiran pemerintah dalam menjaga warisan budaya yang menjadi identitas daerah.
Pelestarian budaya, kata dia, merupakan investasi jangka panjang yang manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh masyarakat adat, tetapi juga oleh generasi mendatang.
Lebih jauh, Fachriasyah melihat Sedekah Gunung memiliki potensi besar sebagai penggerak sektor pariwisata berbasis budaya.
Bukit Penyabung yang masih alami, sejarah panjang masyarakat Jerieng, prosesi adat yang tetap otentik, serta keterlibatan masyarakat dalam setiap tahapan ritual menjadi daya tarik yang tidak dimiliki banyak daerah.
Menurutnya, apabila dikelola secara berkelanjutan dengan tetap menjaga nilai-nilai adat, Sedekah Gunung dapat berkembang menjadi salah satu ikon wisata budaya Kabupaten Bangka Barat.
Wisatawan tidak hanya datang menikmati keindahan alam, tetapi juga memperoleh pengalaman memahami sejarah, adat istiadat dan filosofi kehidupan masyarakat Jerieng secara langsung.
Pengembangan tersebut diyakini akan memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat melalui tumbuhnya usaha kuliner tradisional, kerajinan lokal, homestay, jasa pemandu wisata, hingga berbagai sektor ekonomi kreatif berbasis budaya.
Dengan demikian, pelestarian budaya tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga membuka peluang kesejahteraan bagi masyarakat.
Menutup sambutannya, Fachriasyah mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga Sedekah Gunung sebagai bagian dari kekayaan budaya Bangka Barat.
“Saya harapkan agar tradisi ini dilestarikan sebagai bagian dari keragaman tradisi, adat dan budaya di Bumi Sejiran Setason, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung,” tuturnya.
Ajakan itu menjadi penegasan bahwa membangun daerah bukan hanya melalui pembangunan fisik.
Daerah yang kuat juga dibangun oleh budaya yang tetap hidup, masyarakat yang bangga terhadap identitasnya dan pemerintah yang hadir menjaga warisan leluhurnya.
Di Bukit Penyabung, komitmen itu terlihat nyata.
Masyarakat menjaga tradisi dengan penuh kesetiaan.
Sementara Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangka Barat terus menguatkan langkah pelestarian agar Sedekah Gunung tidak hanya dikenang sebagai peninggalan masa lalu, tetapi tumbuh sebagai warisan budaya yang hidup, menjadi kebanggaan Bumi Sejiran Setason, sekaligus memperkaya wajah pariwisata budaya Indonesia.
Didi /Belva KBO babel



